Self development

Ketika Pikiran Percaya pada Ketakutan: Tentang Anxiety, Trust Issue, dan Self-Image

Belakangan ini saya sedang asyik bermain sebuah MMORPG seperti biasa ini jenis game kesukaan saya, namanya Ragnarok Ketika Pikiran Percaya pada Ketakutan: Tentang Anxiety, Trust Issue, dan Self-Image

Berburu Miya

Belakangan ini saya sedang asyik bermain sebuah MMORPG, jenis game yang memang selalu saya suka, namanya Ragnarok Online New World. Salah satu fitur di dalamnya adalah menangkap pet yang bisa menjadi support untuk karakter kita. Pet sendiri memiliki level rarity. Semakin rare, semakin bagus pula support yang diberikan.

Ada satu pet bernama Miya. Dia termasuk pet legendaris yang sebenarnya muncul cukup sering, sekitar lima menit sekali. Masalahnya, semua orang berebut untuk menangkap pet tersebut. Dalam setiap kemunculannya, hanya satu atau dua orang yang bisa mendapatkannya. Saya sangat menginginkannya, jadi saya memutuskan untuk menunggu di titik tempat Miya muncul sampai berhasil mendapatkannya.

Selama menunggu Miya, saya banyak memikirkan hal hal random. Mungkin karena memang tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu setiap lima menit sekali. Dalam salah satu lamunan itu, saya menyimpulkan bahwa ada dua tipe orang di antara rombongan pencari Miya. Tipe pertama adalah mereka yang skeptis sejak awal, “Saya tidak akan pernah seberuntung itu untuk mendapatkannya.” Tipe kedua adalah mereka yang percaya diri, “Saya pasti bisa dapat.”

Lalu saya masuk kategori yang mana? Mix di antara keduanya.

Entah kenapa, ada bagian dari diri saya yang berpikir bahwa saya tidak seberuntung itu. Tapi di sisi lain, saya juga tidak bisa menyerah begitu saja. Saya tetap ingin mencoba. Jadilah saya terus mencoba sambil membawa ketakutan bahwa mungkin saya tidak akan berhasil.

Dan dari situlah muncul anxiety.

Ketika Orang Lain Berhasil Lebih Dulu

Sebenarnya ini hanya sebuah game sederhana. Tapi karena saya menghabiskan beberapa jam untuk menunggu dan diam, saya jadi punya banyak waktu untuk berpikir, termasuk pikiran pikiran yang ternyata cukup serius.

Pernah suatu ketika saya sudah menunggu cukup lama, lalu seseorang yang baru datang justru lebih beruntung dan berhasil mendapatkan Miya lebih dulu. Pikiran saya langsung berkata, “Tuh kan, aku gak seberuntung itu. Buang waktu nih. Udahlah.”

Setelah beberapa kali mengalami hal seperti itu, saya mulai deg degan setiap ada pemain lain yang berdiri di dekat saya. Terlebih ketika mereka baru datang, tapi ternyata bisa mendapatkan Miya lebih cepat.

Lalu saya sadar, perasaan ini terasa familiar. Hal yang sama terkadang muncul dalam kehidupan dan karier saya.

“Kok dia bisa duluan sukses dengan Product A, padahal aku juga sudah membuat Product A dari lama?”

Ternyata melihat orang lain yang datang belakangan tetapi berhasil lebih dulu bisa dengan mudah membuat kita mempertanyakan diri sendiri. Bukan hanya mempertanyakan usaha kita, tapi perlahan juga mempertanyakan apakah kita memang mampu mendapatkannya.

Takut Kehilangan Kesempatan

Ada pemikiran lain yang muncul selama saya berburu Miya. Suatu ketika, tempat menunggu Miya sedang kosong. Kalau saya tetap di sana, peluang saya mendapatkannya tentu lebih besar. Tapi bersamaan dengan itu, muncul sebuah event lain yang terlihat menggiurkan. Kalau saya tetap menunggu Miya, berarti saya kehilangan kesempatan untuk mengikuti event tersebut.

Sering kali akhirnya saya meninggalkan Miya dengan pikiran, “Ah, masih ada lain waktu. Nanti aja nangkapnya.” Tapi ketika “lain waktu” itu datang, tempat tersebut sudah penuh lagi. Akhirnya saya gagal mendapatkan sesuatu yang benar benar saya inginkan demi mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu saya inginkan.

Dan lagi lagi, rasanya familiar.

Kadang kita sudah tahu apa yang sebenarnya kita inginkan. Kesempatannya bahkan sudah ada di depan mata. Tapi karena takut kehilangan kesempatan lain, kita justru meninggalkan tujuan utama kita. Kita berpikir masih ada besok, masih ada kesempatan berikutnya, masih bisa dicoba lagi nanti. Padahal kita tidak pernah tahu seperti apa kondisi “nanti” itu.

Ketika Asumsi Terasa Seperti Kenyataan

Pernah juga saya berpikir, “Ya sudah, saya bangun saja tengah malam. Pasti sepi.”

Turns out, malah lebih ramai dari biasanya.

Dari situ saya mulai sadar bahwa asumsi bisa menjadi pedang bermata dua. Kita mengambil keputusan berdasarkan sesuatu yang kita pikir akan terjadi, padahal tidak ada kepastian bahwa asumsi tersebut benar.

Terkadang, asumsi yang terlalu kita percaya justru membuat kita mundur satu langkah atau mengambil langkah yang salah.

Fokus pada Apa yang Bisa Saya Kendalikan

Akhirnya saya memutuskan melakukan sesuatu yang berbeda. Saya memilih untuk sabar, stay di sana, fokus, dan percaya.

Tapi percaya saja tentu tidak cukup.

Sebelumnya, saya mencoba mencari tahu bagaimana cara mendapatkan pet dengan lebih cepat. Saya berlatih menangkap monster pet lain, mencoba beberapa cara, sampai akhirnya memahami mekanismenya. Setelah tahu caranya, saya menjadi lebih percaya diri di tengah ketidakpedean yang sebelumnya saya rasakan.

Saya tetap tidak tahu apakah Miya berikutnya akan menjadi milik saya atau orang lain. Tidak ada jaminan. Tapi setidaknya sekarang saya tahu bahwa saya sudah mempersiapkan diri dan melakukan apa yang bisa saya lakukan.

Jadi saya sabar, fokus, dan stay cukup lama di sana.

And I got it.

Saya akhirnya mendapatkan Miya.

Yang Berubah Bukan Miya, Tapi Saya

Beberapa hari kemudian, saya melakukan hal yang sama. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Saya pernah berhasil.

Karena saya pernah berhasil menangkap Miya sebelumnya, saya jauh lebih percaya diri. Ketakutan itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi pikiran yang muncul sudah berbeda.

“Aku sudah pernah berhasil kok. Ini juga pasti bisa.”

Bahkan ketika belum berhasil, respons saya berubah menjadi, “Gak dapat? Ah, tenang aja. Nanti juga dapat.”

Padahal Miya yang saya hadapi sama. Persaingannya sama. Kemungkinan gagal tetap ada.

Yang berubah adalah cara saya melihat diri saya sendiri.

Sebelumnya saya datang dengan pikiran, “Saya bukan orang yang cukup beruntung untuk mendapatkannya.” Sekarang saya datang dengan pikiran, “Saya pernah mendapatkannya. Berarti saya bisa.”

Satu pengalaman berhasil ternyata cukup untuk mengubah cara saya menghadapi ketidakpastian yang sama.

Sekali lagi, ini hanya sebuah game. Tapi ternyata cukup membuat saya merefleksikan banyak hal. Tentang bagaimana ketakutan bisa berubah menjadi sesuatu yang kita percaya. Tentang bagaimana asumsi yang belum tentu benar bisa memengaruhi keputusan kita. Tentang bagaimana keberhasilan orang lain terkadang membuat kita mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Dan tentang bagaimana sebuah pengalaman kecil perlahan bisa mengubah self image kita.

Mungkin selama ini bukan hanya keadaan yang menentukan bagaimana kita bertindak, tetapi juga siapa diri kita menurut pikiran kita sendiri.

Leave a Reply